Mengenali Jenis Plastik Konvensional dan Plastik Ramah Lingkungan (Bioplastik, Biodegradeble dan Eco-plastik)

Oleh: Tika Pratiwi Khumairoh

Kehidupan kita saat ini tidak terlepas dari penggunaan plastik. Plastik yang digunakan memiliki berbagai jenis yang ditandai dengan nomor 1 hingga 7. Perbedaan jenis plastik biasanya ditandai dengan anak panah berbentuk segitiga yang menjadi tanda bahwa produk plastik bisa didaur ulang dengan angka ditengahnya yang menandakan jenis plastik tersebut. Plastik yang aman digunakan ditandai dengan nomor 1, 2, 4, 5 dan 7 (SAN/ABS). Plastik bernomor 1 yaitu Polyethylene Terephthalate (PET) pada umumnya bewarna transparan dan kaku, biasa digunakan sebagai kemasan soft drink, air mineral, wadah saus, dan botol minyak sayur. Jenis plastik nomor 2 yaitu High-Density Polyethylene (HDPE) banyak ditemukan pada botol air mineral atau campuran pada botol susu bayi karena tidak membuat lemak susu menempel dibotol, sedangkan plastik nomor 4 yaitu Low-Density Polyethylene (LDPE) yang biasa digunakan sebagai pengemas makanan sekali pakai.

Plastik nomor 5 Polypropylene (PP) yang paling banyak ditemukan sebagai pengemas makanan karena kokoh dan tebal sehingga risiko migrasi senyawa kecil. Jenis terakhir yang biasa digunakan, yakni: Styrene acrylonitrile (SAN), Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS) yang merupakan kelompok plastic Other nomor 7. Plastik jenis SAN dan ABS adalah jenis plastik yag dianggap sebagian peneliti kurang baik tetapi masih digunakan sebagai kemasan makanan dan minuman karena memiliki perlindungan yang baik terhadap reaksi kimia. Jenis plastik yang dapat digunakan beberapakali ditandai dengan nomor 1 dengan ridak menggunakan suhhu tinggi, sedangkan nomor 5 aman digunakan berulang-ulang.

Jenis plastik yang berbahaya bagi kesehatan adalah nomor 3 yaitu Polyvinyl Chloride (PVC), nomor 6 Polystyrene (PS) dan Nomor 7 Other (O) PC jika digunakan sebagai wadah penyimpanan makanan dan minuman. Hal itu dikarenakan, plastik PS dapat mengeluarkan zat styrene jika bersentuhan dengan makanan dan minuman apalagi dalam kondisi panas. Zat styrene dilaporkan dapat menimbulkan banyak masalah Kesehatan. Plastik jenis Other (O) PC sangat tidak dianjurkan untuk dipakai sebagai tempat menyimpan makanan dan minuman karena mengandung senyawa Bisphenol-A yang dapat merugikan kesehatan.

Tingginya penggunaan plastik menyebabakan menumpuknya sampah plastik. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar jumlah timbunan sampah yang sangat besar, kira-kira 67,8 juta ton pada tahun 2020 akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidik juga mendata konsumsi kantong plastik naik 8,83 persen menjadi 10,72 miliar lembar/tahun pada 2018 dan akan terus meningkat.

Selain itu, isu keamanan bahan kemasan plastik menjadi pertimbangan karena meningkatnya konsumsi kemasan plastik untuk sektor makanan. Migrasi mikromolekul dari kemasan plastik kemakanan dapat mengubah sifat sensorik makanan, yang mengurangi penerimaannya bagi konsumen, dan terlebih lagi, efeknya pada kesehatan manusia. Proses daur ulang tidak bisa menjadi solusi karna hanya mampu mengatasi 10-12% sampah. Plastik konvensional daur ulang yang disebut eco-plastik adalah plastik yang dihasilkan dari proses daur ulang bahan-bahan plastik dari petrokimia untuk digunakan kembali. Plastik yang didaur ulang tidak akan diproduksi menjadi jenis produk yang sama, melainkan jenis plastik dengan kualitas lebih rendah. Produk yang menggunakan plastik eco umumnya bukan jenis produk sekali pakai, melainkan produk yang dapat digunakan berkali-kali dalam jangka waktu lama. Karena kemampuan proses daur ulang yang belum berimbang dengan jumlah sampah plastik yang diproduksi setiap hari maka untuk mengatasi hal tersebut, penggunaan plastik ramah lingkungan pun terus didorong.

Saat ini banyak dikembangkan model plastik ramah lingkungan. Plastik ramah lingkungan dapat menggeser kebutuhan akan plastik kresek konvensional. Keunggulan dari plastik ramah lingkungan jenis bioplastik dan biodegradable adalah proses penguraiannya yang tidak memakan waktu selama plastik konvensional yang memerlukan waktu hingga 500 tahun untuk terurai. Selain itu, bioplastik juga dapat digunakan sebagai kompos pada industri tertentu.

Bioplastik adalah jenis plastik ramah lingkungan yang terbuat dari bahan alami, seperti pati jagung atau jamur. Hasil produksi plastik ramah lingkungan dari bahan alami terbarukan ini bernama polylactid acid (PLA). PLA memiliki penampakan dan ciri yang menyerupai polyethylene dan polypropylene, yakni dua jenis plastik yang berasal dari bahan petrokimia. Jenis plastik kedua yaitu biodegradable adalah jenis plastik yang mudah terurai. Berbeda dengan bioplastik yang terbuat dari bahan alami terbarukan, plastik biodegradable dapat terbuat dari bahan petrokimia konvensional dengan bahan tambahan yang membuat sampahnya lebih mudah terurai. Bahan tambahan ini membuat plastik dapat terurai oleh sinar (photodegradable) dan oksigen (oxydegradable).

Keunggulan dari plastik ramah lingkungan, khususnya jenis bioplastik dan biodegradable, adalah proses penguraiannya yang tidak memakan waktu selama plastik tradisional. Selain itu, bioplastik juga dapat digunakan sebagai kompos. Sementara keunggulan eco-plastik adalah mengurangi limbah sampah plastik karena produk plastik dapat kembali digunakan dalam jangka waktu lama. Walaupun demikian, bukan berarti jenis plastik ini akan terurai secepat bahan organik. Perlu 18 – 48 bulan bagi plastik ramah lingkungan untuk bisa terurai. Selain itu, plastik ramah lingkungan juga masih dapat menghasilkan karbondioksida saat dibakar dan tetap menjadi sampah laut yang butuh waktu untuk menguraikannya. Oleh karena itu, lebih bijak menggunakan plastic sebagai bentuk mencintai bumi.